|
MEDAN (Berita): Sejumlah
aktivis yang turut berperan dalam aksi demo di Karo beberapa waktu lalu,
spontan bereaksi. Mereka kaget mendengar tudingan aksi demo yang
berujung pada persetujuan DPRD terhadap pemakzulan Bupati Karo, disebut
berpangkal dari permintaan proyek Rp12 miliar yang tidak disetujui.
‘’Itu tidak benar. Makanya, kita
menuntut Bupati Karo menunjuk hidung siapa yang meminta proyek ini. Aksi di
Karo beberapa waktu lalu, itu murni, ini murni gerakan moral. Bagaimana
mungkin kita bisa menghadirkan 3.000 massa tiga minggu terus-menerus setiap
hari (kecuali Sabtu dan Minggu) sejak 2 Desember 2013, kalau ini bukan
karena keinginan rakyat,’’ ujar Thomas Sitepu, tokoh eksponen 66 yang juga
mantan Wakil Ketua DPRD Jawa Barat.
Dia datang ke redaksi Harian
Waspada di Bumi Warta Jalan Jenderal Suprapto Medan, Jumat (10/1), untuk
menyampaikan klarifikasi. Thomas Sitepu didampingi aktivis lainnya Roy
Fachraby Ginting, SH, MKn (Sekretaris MPR Karo), Suenta Pinem (tokoh
gerakan muda Karo), Agen Sitepu (penggerak demonstran), Ratna Junidha
Keliat (demonstran), Dahlia Keliat (demonstran) dan SP Keliat (demonstran).
‘’Saya dan istri datang
jauh-jauh dari Jawa Barat, juga seperti kawan-kawan yang lain, semata-mata
karena ingin memperbaiki kampung halaman. Dan saya tak berniatbupati, tidak
ada meminta proyek, tidak ada meminta uang, tapi saya memang anti
kebatilan,’’ ujar Thomas Sitepu seraya berharap agar dilakukan rekonsiliasi
setelah masalah ini selesai, yang orientasinya sebagai upaya perbaikan Kab.
Karo, apalagi saat ini sedang menghadapi musibah erupsi Gunung Sinabung.
Sedangkan Sekretaris MPR Karo
Roy Fachraby Ginting, SH, MKn menyatakan, gerakan ini murni. Dia juga
mendesak Bupati Karo segera mengungkap ke publik, siapa yang meminta proyek
Rp12 miliar. ‘’Itu harus diungkap. Kalau tidak, jangan-jangan ini bisa
dituding sebagai pembohongan publik,’’ ujar Roy.
Dalam kondisi seperti ini,
setelah 33 dari 35 anggota DPRD Karo setuju pemakzulan Bupati Karo, menurut
Roy Fachraby Ginting, lebih baik Bupati Karo mengundurkan diri. Namun, dia
berpesan, agar masyarakat Karo tetap tenang, terus menjaga suasana
kondusif, tidak bergerak sendiri-sendiri.
‘’Kita juga berharap, selain
kita secara bersama-sama mengawal proses pemakzulan bupati sampai Mahkamah
Agung, kita juga jangan melupakan kondisi pengungsi. Kita harus terus
maksimalkan potensi membantu pengungsi,’’ ujar Roy.
Suenta Pinem (tokoh gerakan muda
Karo) dan Agen Sitepu (penggerak demonstran), Ratna Junidha Keliat
(demonstran), Dahlia Keliat (demonstran) dan SP Keliat (demonstran)
mengungkapkan, aksi demo di Kab. Karo beberapa waktu lalu samasekali tidak
ada sangkut-pautnya dengan permintaan proyek senilai Rp12 miliar, juga
tidak ada hubungannya dengan upaya menyerang salahsatu parpol.
Dijelaskan, mereka yang
melakukan demo berasal dari berbagai kalangan, petani, buruh, PNS,
pedagang, pemuka agama. ‘’Bahkan, yang menggelar orasi, justru kader parpol
tertentu yang katanya mau diserang. Saya kira, tak perlu cari alasan, demo
itu murni untuk mengubah Kab. Karo menjadi lebih baik,’’ ujar Suenta
Pinem. (ihn)
|
Komentar
Posting Komentar